Kamis, 18 April 2013

Makalah Perkembangan Peserta Didik (Perkembangan Spiritual)


KATA PENGATAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT atas hidayah dan rahmat-Nya kepada kami sehingga laporan ini dapat selesai tepat pada waktunya. Tak lupa kami kirimkan salawat kepada Rasulllah SAW sebagai rahmatan Lil alamin.
Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada semua pihak atas partisipasinya dalam penyusunan makalah ini baik partisipasi berupa materi maupun pikirin dan tenaga.
Kami juga meminta maaf jika dalam makalah ini terdapat kesalahan dan tidak berkenan dihati. Karena kami hanya manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Sekian

                                                                             Paria,  Mei 2011
                                                                             Penyusun

                                                                             Kelompok 7


DAFTAR ISI
Kata pengantar .......................................................................................      i
Daftar isi .................................................................................................      ii
BAB I Pendahuluan................................................................................      1
A.    Latar Belakang ...........................................................................      1
B.     Tujuan .........................................................................................      1
C.     Rumusan Masalah ......................................................................      2
BAB II Pembahasan ..............................................................................      3
A.    Konsep spiritual ..........................................................................      3
B.     Pola normal spiritual ...................................................................      5
C.     Perkembangan aspek spiritual ....................................................      7
D.    Faktor yang mempengaruhi spiritual ..........................................      10
BAB III Penutup ...................................................................................      12
A.    Kesimpulan .................................................................................      12
B.     Saran ...........................................................................................      12
Daftar pustaka ........................................................................................      13

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Manusia dalam perspektif merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah spirual dan membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan spiritualnya dalam kondisi optimal. Sebagai seorang manusia, manusia memiliki beberapa peran dan fungsi seperti sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Berdasarkan hakikat tersebut, maka perkembangan memandang manusia sebagai mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural dan spiritual. Tidak terpenuhinya kebutuhan manusia pada salah satu diantara dimensi di atas akan menyebabkan ketidaksejahteraan atau keadaan tidak sehat. Kondisi tersebut dapat dipahami mengingat dimensi fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Tiap bagian dari individu tersebut tidaklah akan mencapai kesejahteraan tanpa keseluruhan bagian tersebut sejahtera. Kesadaran akan pemahaman tersebut melahirkan keyakinan dalam psikologi perkembangan anak bahwa pemberian asuhan spiritual hendaknya bersifat komprehensif atau holistik, yang tidak saja memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kultural tetapi juga kebutuhan spiritual manusia. Sehingga, pada nantinya manusia akan dapat merasakan kesejahteraan yang tidak hanya terfokus pada fisik maupun psikologis saja, tetapi juga kesejateraan dalam aspek spiritual. Kesejahteraan spiritual adalah suatu faktor yang terintegrasi dalam diri seorang individu secara keseluruhan, yang ditandai oleh makna dan harapan. Spiritualitas memiliki dimensi yang luas dalam kehidupan seseorang sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik dari psikologi sehingga mereka dapat mengaplikasikannya dalam pemberian asuhan psikologi kepada manusia.
B.     Tujuan
1.      Untuk memenuhi kebutuhan Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak
2.      Mengetahui konsep spiritual secara umum
3.      Mengetahui pola normal spiritual
4.      Mampu menganalisa hal-hal yang mampu mempengaruhi spiritual individu
C.     Rumusan Masalah
Identifikasi permasalahan berdasarkan materi yang dipelajari yaitu Konsep Spiritual terdiri dari:
1.      Bagaimana membuat pola normal spiritual ?
2.      Bagaiman menganalisa berbagai hal dan kondisi yang mampu mempengaruhi spiritual?
3.      Bagaimana menganalisa perubahan fungsi spiritual berdasarkan karakteristik spiritual?
















BAB II
PEMBAHASAN

Manusia terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Seringkali permasalahan yang mucul pada manusia ketika mengalami suatu kondisi dengan penyakit tertentu mengakibatkan terjadinya masalah psikososial dan spiritual. Ketika manusia mengalami penyakit, kehilangan dan stres, kekuatan spiritual dapat membantu individu tersebut menuju penyembuhan dan terpenuhinya tujuan dengan atau melalui pemenuhan kebutuhan spiritual. Penelitan menyebutkan seseorang dinyatakan usianya tinggal beberapa bulan, tetapi karena ia memiliki koping yang baik berdasarkan pengalaman agamanya, ia tetap bahagia menjalani hari-harinya dengan bernyanyi dan ceria, membuat puisi-puisi yang indah. Ternyata orang tersebut mampu bertahan hingga bartahun-tahun. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Pressman, menunjukkan bahwa wanita lanjut usia yang menderita farktur tulang pinggul yang kuat religi dan pengalaman agamanya, ternyata lebih kuat mental dan kurang mengeluh, depresi, dan lebih cepat berjalan daripada yang tidak mempunyai komitmen agama. 
Contoh ayat Al quran tata krama pergaulan dalam spiritual islam yang artinya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Al Israa':23)
Dari hal-hal tersebut diatas dapat dikatakan dimensi spiritual menjadi hal penting sebagai aspek perkembangan manusia. Berikut akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan konsep kesehatan spiritual.
A.      Konsep spiritual
1.    Pengertian spiritual
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan seseorang. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, dan harapan, melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama.
Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing individu (Farran et al, 1989). Masing-masing individu memiliki definisi yang berbeda mengenai spiritual, hal ini dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Menurut Emblen, 1992 spiritual sangat sulit untuk didefinisikan. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritual termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan dan eksistensi. Spiritual menghubungkan antara intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan antara diri sendiri dan orang lain), dan transpersonal (hubungan antara diri sendiri dengan tuhan/kekuatan gaib). Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta spiritual juga merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan dari nilai-nilai dan sistem kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik bila pemahamannya dibatasi. (Hanafi, djuariah. 2005).
2.    Karakteristik spiritual
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan.
Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:
a.       Kepercayaan
b.      Pemaafan
c.       Cinta dan hubungan
d.      Keyakinan, kreativitas dan harapan
e.       Anugrah dan harapan
B.       Pola Normal Spiritual
Pola normal spiritual adalah sesuatu pola yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Keyakinan tersebut diketahui sebagai suatu faktor yang kuat dalam penyembuhan dan pemulihan fisik. Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi. Setiap individu memiliki pemahaman tersendiri mengenai spiritualitas karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal tersebur. Perbedaan definisi dan konsep spiritualitas dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup seseorang, serta persepsi mereka tentang hidup dan kehidupan. Pengaruh tersebut nantinya dapat mengubah pandangan seseorang mengenai konsep spiritulitas dalam dirinya sesuai dengan pemahaman yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang teguh. Konsep spiritual memiliki arti yang berbeda dengan konsep religius. Kedua hal tersebut memang sering digunakan secara bersamaan dan saling berhubungan satu sama lain. Konsep religius biasanya berkaitan dengan pelaksanaan suatu kegiatan atau proses melakukan suatu tindakan. Konsep religius merupakan suatu sistem penyatuan yang spesifik mengenai praktik yang berkaitan bentuk ibadah tertentu. Emblen dalam Potter dan Perry mendefinisikan religi sebagai suatu sistem keyakinan dan ibadah terorganisasi yang dipraktikan seseorang secara jelas menunjukkan spiritualitas mereka. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa religi adalah proses pelaksanaan suatu kegiatan ibadah yang berkaitan dengan keyakinan tertentu. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan spiritualitas diri mereka. Sedangkan spiritual memiliki konsep yang lebih umum mengenai keyakinan seseorang. Terlepas dari prosesi ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut. Konsep spiritual berkaitan berkaitan dengan nilai, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme (penolakan terhadap keberadaan Tuhan) hingga agnotisme (percaya bahwa Tuhan ada dan selalu mengawasi) atau theism (Keyakinan akan Tuhan dalam bentuk personal tanpa bentuk fisik) seperti dalam Kristen dan Islam. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu. Keyakinan mendasari seseorang untuk bertindak atau berpikir sesuai dengan kepercayaan yang ia ikuti. Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. Sebagai contoh, persepsi seorang Muslim mengenai psikologi kesehatan dan respon penyakit tentunya berbeda dengan persepsi seorang Budhis. Semua itu tergantung konsep spiritual yang dipahami sesuai dengan keyakinan dan keimanan seorang individu.
Ada beberapa contoh islam yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
1.    Pola orang tua mengajarkan anak untuk melaksanakan sholat
2.    Pola orang tua memberikan tauladhan untuk menghormati orang yang lebih tua.
3.    Pola normal orang tua dalam memanfaatkan waktu untuk mengaji bersama anak dalam keluarga.
Pola normal spiritual bahkan Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa keimanan diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan pemulihan fisik, yang tidak dapat diukur.
C.       Perkembangan Aspek Spiritual
Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi.
Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia. Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
1.    Individu yang berusia antara 0-18 bulan, Bayi yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri. Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Haber (1987) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi.
2.    Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual.
3.    Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya.
4.    Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak (6-12 tahun). Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka.
5.    Remaja (12-18 tahun), pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
6.    Dewasa muda (18-25 tahun), pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa.
7.    Dewasa pertengahan (25-38 tahun), dewasa pertengahan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual.
8.    Dewasa akhir (38-65 tahun). Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat.
9.    Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap perkembangan ini, menurut Haber (1987) pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain.
D.       Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Spiritual
Spiritual adalah komponen penting dari seorang individu yang dimiliki dan sebuah aspek integral dari filosofi holistik. Perkambangan spiritual pasti mengalami keadaan yang tidak selalu baik seperti halnya fisik. Secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan spiritual. Spiritualitas tidak selalu berkaitan dengan agama, tetapi spiritualitas adalah bagaimana seseorang memahami keberadaannya dan hubungannya dengan alam semesta. Orang-orang mengartikan spiritualitas dengan berbagai cara dan tujuan tersendiri. Setiap agama menyatakan bahwa manusia ada dibawah kuasa Tuhan. Namun, dari semua itu setiap manusia berusaha untuk mengkontrol spiritualitasnya. Inilah yang disebut dengan menjaga kesehatan spiritual. Hal terpenting yang mempengaruhi perkembangan spiritual dan sebaiknya kita jaga adalah nutrisi spiritual. Hal ini termasuk mendengarkan hal-hal positif dan pesan-pesan penuh kasih serta memenuhi kewajiban keagaman yang dianut. Selain itu juga dengan mengamati keindahan dan keajaiban dunia ini dapat memberikan nutrisi spiritual. Menilai keindahan alam dapat menjadi makanan bagi jiwa kita. Kedamaian dengan meditasi adalah bentuk lain untuk mendapatkan nutrisi spiritual. Hal itu bukanlah meminta Tuhan kita apa yang kita inginkan tetapi mencari keheningan untuk merekleksikan dan berterima kasih atas apa pun yang telah kita terima. Hal lain yang mempengaruhi perkembangan spiritual kita adalah latihan. Tidak hanya latihan dasar untuk kesehatan tubuh, tetapi juga latihan spiritual untuk menjaga spiritual. Latihan ini terdiri dari penggunaan jiwa kita. Sehingga latihan tersebut memberi sentuhan pada jiwa kita dan digunakan untuk menuntun kita untuk bertingkah-laku dengan baik, untuk menunjukan cinta kasih dan perasaan pada oring lain untuk memahami dan untuk mencari kedamaian. Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah lingkungan. Hal ini dikarenakan lingkungan dimana kita hidup adalah somber utama kejahatan ynag dapat mempengaruhi jiwa kita. Kita harus waspada untuk menghindari keburukan yang berasal dari lingkungan kita dan mencari hal positif yang dapat diambil.
Tantangan yang dapat mengancam perkembangan spiritual kita dapat berasal dari luar maupun dari dalam dari kita. Ancaman dari luar dikarenakan setiap orang memiliki bentuk penularan spiritual yang menyebarkan penyakit spiritual kepada orang lain disekitar mereka. Beberapa orang merusak moral dan mencoba untuk menarik orang lain untuk mengikuti kepercayaannya. Beberapa agama memberikan bekal keimanan yang cukup untuk menolak kepercayaan lain. Banyak orang-orang yang melakukan hal-hal yang buruk dan jahat. Kemudian mempengaruhi orang lain untuk mengikuti hal-hal buruk yang dilakukan. Keinginan untuk melakukan hal-hal buruk tersebut timbul dari keinginan diri sendiri.








BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
1.    Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta spiritual juga merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan dari nilai-nilai dan sistem kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik bila pemahamannya dibatasi. (Hanafi, djuariah. 2005).
2.    Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:
a.    Kepercayaan
b.    Pemaafan
c.    Cinta dan hubungan
d.   Keyakinan, kreativitas dan harapan
e.    Anugrah dan harapan
3.    Ada beberapa contoh islam yang menerapkan pola normal spiritualnya dengan cara:
a.    Pola orang tua mengajarkan anak untuk melaksanakan sholat
b.    Pola orang tua memberikan tauladhan untuk menghormati orang yang lebih tua.
c.    Pola normal orang tua dalam memanfaatkan waktu untuk mengaji bersama anak dalam keluarga.
4.    Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual adalah nutrisi, latihan dan lingkungan tempat tinggal
B.       Saran
Upaya untuk melakukan peningkatan spiritualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan latihan yoga dan melakukan meditasi. Penting juga diperhatikan pemenuhan nutrisi spiritual. Hal tersebut tentunya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, akan lebih baik jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Sehingga mampu berperilaku dan mempertahankan kondisi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA


Agustian, Ary Gunanjar.2002. Rahasia Sukses Membangun Keserdasan Emosi Dan Spiritual dan Spiritual:Esq (Emotional Spiritual Quotient) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya Persada.

Jumat, 29 Maret 2013

Makalah Etika keguruan



BAB I
PENDAHULUAN

Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator.
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.
Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: guru) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para siswanya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (siswa), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya.
Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi guru dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa.
  1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.
  2. Membangkitkan minat siswa.
  3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.
  4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.
  5. Berikan penilaian.
  6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa.
  7. Ciptakan persaingan dan kerja sama.
Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar siswa di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan siswa. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.




























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Peranan Guru Sebagai Motivator
Adapun peranan guru sebagai motivator adalah:
1)      Bersikap terbuka, dalam arti guru harus melakukan tindakan yang mampu mendorong kemauan murid untuk mengungkapkan pendapatnya, menerima siswa dengan segala kekurangan dan kelebihannya, mau menanggapi pendapat siswa secara positif, dalam batas tertentu berusaha memahami kemungkinan terdapatnya masalah pribadi dari siswa, menunjukkan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, dan menunjukkan sikap ramah serta penuh pengertian terhadap siswa.
2)      Membantu siswa agar mampumemahami dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya secara optimal, dalam arti guru harus mampu memberikan gambaran tentang kemampuan dan kelemahan para siswanya, mendorong siswa untuk sekali waktu mengungkapkan perasaannya, membantu siswa agar memiliki rasa percaya diri dan memiliki keberanian dalam membuat keputusan.
3)      Menciptakan hubungan yang serasi dan penuh kegairahan dal interaksi belajar mengajar di kelas, dalam menunjukkan kegiatan antara lain, menangani perilaku siswa yang tidak diinginkan secar positif, menunjukkan kegairahan dalam mengajar, murah senyum, mampu mengendalikan emosi, dan mampu bersifat proporsional sehingga berbagai masalah pribadi dari guru itu sendiri dapat didudukan pada tempatnya.
B.      Macam-Macam Motivasi
Motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi.
1)      Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya.
a)      Motif-Motif Bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Contoh: dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristrirahat. Motif-motif ini seringkali disebut motif-moti yang disyaratkan secara biologis.
b)   Motif-motif yang dipelajari
Motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengejar sesuatu didalam masyarakat. Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara social. Sebab manusia hidup dalam lingkungan social dengan sesame manusia yang lain, sehingga motivasi terbentuk. Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif ini:
·         Cognitive Motives
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada didalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar disekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
·         Self-expression
Penampilan diri adalah sebagaian dari perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat kejadian. Untuk itu memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang itu ada keinginan untuk aktualisasi diri.
·         Self-enhancemeent
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.

2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, berbuat dan kebutuhan untuk beristrirahat. Ini sesuai dengan jenis physiological drives dari Frandsen.
Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaru minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar efektif.
3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya: reflex, instink otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah, yaitu: kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
·      Momen timbulnya alasan.
Sebagai contoh seorang pemuda yang sedang giat berlatih olah raga untuk menghadapi suatu porseni disekolahnya, tetapi tiba-tiba disuruh ibunya untuk mengantarkan seseorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali kejakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini si pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan sesuatu kegiatan. Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
·      Momen pilih.
Momen pilih maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternative-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara alternative atau alasan-alasan itu. Kemudian seseorang menimbang-nimbang dari berbagai alternative untuk kemudian menentukan pilihan alternative yang akan dikerjakan.
·      Momen putusan.
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu akan berakhir dengan dipilihnya atu alternative. Satu alternative yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
·      Momen terbentuknya kemauan.
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, maka timbulah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak, melaksanakan putusan itu.
4. Motivasi Instrinsik dan ekstrinsik
a.       Motivasi instrinsik.
Yang dimaksud dengan motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyurh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi instrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Contoh konkrit, seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain-lain. “instrinsic motivations are inherent in the learning situations and meet pupil-needs and purposes”. Itulah sebab motivasi instrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi instrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengatahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ketujuan  yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan pengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b.      Motivasi ekstrinsik.
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mngetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bargayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu motivasi ekstrensik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti baahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar-mengajar tetap penting. Sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-kompenen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
C.     Fungsi dan Bentuk Motivasi Dalam Kegiatan Pembelajaran
Penggerak motivasi belajar untuk siswa dapat dilakukan melalui berbagai cara,  sebagai berikut:
1)      Metode Penemuan (Bruner)
Metode ini dimaksudkan agar siswa memberri stimulus terhadap dirinya sendiri, sehingga siswa itu sendiri yang melakukan fungsi penggerak motivasinya.
2)      Motivasi Kompetensi (Robert White)
Motivasi kompetensi menggerakkan tindakan-tindakan seperti: menyelidiki, memperhatikan ,berbicara, penalaran,dan manipulasi.
3)      Belajar Terprogam (Bert Kersh)
Kelompok belajar secara terbimbing berisikan serangkaian pertanyaan dan jawaban, yang disusun secara terhadap sampai pada penyelesaian masalah. Cara belajar seperti ini menurut siswa untuk membuat inferensi dan mengingat aturan-aturan tanpa bantuan atau penjelasan dari guru.
4)      Prosedur Brainstorming (Torrance)
Prosedur ini dimaksudkan agar siswa mampu memproduksi ide-ide yang berbobot tinggi, melalui diskusi dan kritik. Istilah lain dari prosedur ini adalah prosedur urun pendapat. Beberapa keuntungan dari prosedur urun pendapat ini adalah bisa menghasilkan ide-ide lebih banyak dibandingkan dengan cara lain, seperti pengarahan janji, atau pun hadiah.
Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan pencapaian prestasi belajarnya.



D.    Bentuk-Bentuk Motivasi Di Sekolah
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Member angka
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa yang bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya naik kelas saja. Ini menunjukan motivasi kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka baik. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru adalah bagaimana cara memberikan angka-angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif saja tetapi juga keterampilan dan efeksinya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan tersebut. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa tidak mmiliki bakat menggambar.
3. Saingan atau kompetensi
Saingan atau kompetensi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baikpersaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang unsure persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industry atau perdagangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.
5. Member ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui aka nada ulangan. Oleh karena itu member ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru harus juga terbuka maksudnya, kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk belajar lebih giat. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar sekaligus akan membangkitkan harga diri.
Hukuman bagai reinforcement yang negative tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
8. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsure kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibndingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud.
9. Minat
Motivasi sangat erat hubungannya dengan unsure minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancer kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:
·         Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
·         Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
·         Member kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik
·         Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
10. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

E.     Mengetahui cara untuk menjadi guru yang penuh motivasi
1. Memanfaatkan Perangkat Visual
Seorang siswa mungkin memerlukan variasi suasana belajar-mengajar. Siswa juga tidak bisa terus dipaksa untuk terus memperhatikan gurunya yang menyampaikan banyak materi di dalam buku pelajaran. Suatu ketika, siswa pasti akan jenuh jika terus belajar dengan cara yang begitu monoton seperti itu. Kaalau sudah demikian, maka akan sulit bagi anda untuk bisa mengajak mereka agar tetap bertahan dan berkonsentrasi dalam menyimak pelajaran.
Oleh sebab itu, beberapa hal di bawah ini mungkin dapat dicoba diterapkan di dalam kelas:
a.       Tulislah sebuah ringkasan informasi atau informasi yang berkenaaan dengan materi pelajaran anda pada selembar kertas dengan alat tulis berwarna. Lalu, bagikan kertas itu pada siswa-siswa. Pada saat anda memberikan penjelasan, rujuklah pada kertas info tersebut sehingga perhatian siswa tidak menjadi jenuh karena harus selalu terpaku kepada anda.
b.      Belajarlah untuk membuat sebuah gambar tertentu yang dapat anda gunakan untuk menjelaskan kesimpulan dari suatu materi pelajaran. Siswa juga akan mudah mengingat sesuatu jika mereka dibantu dengan gambar-gambar. Kehebatan dari kekuatan gambar ini dapat anda buktikan sendiri misalnya ketika anda melihat sebuah gambar segitiga menyerupai berlian yang merupakan logo perusahaan Mitsubishi. Dengan anda melihat gambarnya saja, anda sudah dapat mengingat jenis mobil dan produk elektronik apa saja yang dikeluarkan pabrik asal jepang itu. Itulah salah satu kekuatan gambar untuk mempertajam daya ingat.
c.       Seorang siswa bukanlah objek yang harus selalu diarahkan dan diberi tahu. Mereka juga adalah manusiaa-manusia merdeka yang harus dimotivasi untuk mandiri, terutama dalam menemukaan informasi yang memang penting. Oleh sebab itu, doronglah siswa anda untuk dapat menjelaskan informasi apapun yang mereka ketahui dengan menggunakan sebuah kertas kerja.Mintalah mereka untuk menuliskan tema-tema pokok dari beragam informasi yang mereka dapatkan ke dalam sebuah gambar berikut sedikit ulasan menganai penjelasannya.
d.      Jika anda memiliki informasi penting yang harus disampaikan pada siswa, maka sampaikan informasi itu dengan benar. Dan, hal yang paling penting, informasi yang anda sampaikan harus mampu menumbuhkan motivasi dalam diri siswa agar mereka mau berusaha untuk dapat mencari tahu info itu sendiri secara lebih mendalam.
e.       Pada saat anda hendak menyampaikan sebuah materi pelajaran, maka tulislah beberapa kata kunci atau penjelasan penjelasan yang merupakan garis besar dari mata pelajaran pada selembar kertas. Teknik ini, selain memudahkan siswa mengetahui apa-apa saja hal penting dari sebuah mata pelajaran, mereka juga dapat mengingat hal-hal penting sehingga mereka akan lebih mudah dalam memahaminya.
2. Manfaatkan Perangkat Auditorial
Pada setiap kesempatan mengajar, anda pasti berupaya mengeluarkan suara yang jelas agar apa yang disampaikan dapat ditangkap oleh siswa-siswa anda. Meski kedengarannya sepele, akan tetapi suara guru yang jelas memiliki peranan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar anak didik anda. Memperhatikan kualitas suara anda saat tengah mengajar adalah sama halnya dengan memperhatikan kesuksesan anda dalam mengajar serta kesuksesan siswa-siswa anda dalam memahami pelajaran.
Dan sebagai guru, anda perlu memahami apa yang harus anda lakukan untuk memotivasi siswa-siswa anda. Beberapa hal yang bisa anda lakukan di antaranya:
a.       Perhatikan perubahan nada, kecepatan, dan volume suara anda saat menyampaikan pelajaran. Anda perlu menggunakan variasi vocal untuk memberikan tekanan-tekanan pada bagian-bagian tertentu yang penting pada materi pelajaran yang tengah anda sampaikan. Dengan teknik ini,  maka siswa-siswa anda akan mampu memahami dan mengingat dengan mudah semua penjelasan yang anda utarakan.
b.      Anda harus menyampaikan sebuah informasi atau materi pelajaran dengan bahasa yang jelas, tegas dan terang. Dengan bahasa seperti itu, maka siswa akan terhindar dari rasa jenuh didalam kelas.
c.       Salah satu unsure penting yang juga tidak boleh anda lupakan adalah menjadikan ruang kelas sebagai ajang hiburan. Misalnya saja, anda bisa membuat lagu yang liriknya berisi tentang konsep-konsep penting dari suatu mata pelajaran. Anda mungkin dapat membuat sebuah yel-yel yang isinya memuat kata-kata kunci dari materi pelajaran yang anda sampaikan.
d.      Jika memungkinkan, anda bisa memutar music klasik yang memenangkan ketika tengah menyampaikan materi pelajaran. Music klasik terbukti dapat membantu siswa untuk berkonsentrasi dengan materi pelajaran yang dihadapinya.
3. Arahkan Siswa Untuk Terlibat Aktif  Dalam Proses Pembelajaran
Seorang guru yang berhasil adalah guru yang tidak hanya mampu mentransfer informasi kepada anak-anak didiknya. Lebih dari itu, seorang guru akan disebut berhasil apabila mereka mampu membuka peluang bagi siswa-siswanya untuk meraih keberhasilannya sendiri. Dengan kata lain, keberhasilan dalam proses belajar mengajar tidaklah semata-mata ditentukan oleh kemampuan guru dalam menyampaikan materi, melainkan juga didorong oleh kemampuan guru dalam mengajak anak-anak didiknya untuk terlibat aktif dikelas.
Seorang guru yang penuh motivasi tentu tidak akan membiarkan siswa-siswanya hanya bersikap pasif dengan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh dirinya. Akan tetapi, ia juga akan berusaha untuk mendorong siswanyan untuk memasuki sebuah pengalaman keilmuan yang maha luas sehingga mereka benar-benar mengalaminya sendiri secara nyata.
Berkaitan dengan masalah di atas, maka ada berapa hal yang bisa anda praktikan untuk menjadi guru yang penuh motivasi:
a.       Realisasikan materi pelajaran yang anda ajarkan dengan praktik nyata dilapangan. Misalnya jika anda sedang menyampaikan materi mengenai pentingnya menolong sesama, maka ajaklah siswa-siswa anda mengnjungi panti asuhan, panti jompo dan sekolah untuk orang-orang cacat. Ajak siswa-siswa anda untuk melakukan sesuatu kegiatan bersama-sama mereka yang kurang mampu.
b.      Ceritakanlah hal-hal apa yang pernah anda lakukan, yang sekiranya pengalaman-pengalaman itu berkaitan dengan materi plajaran yang tengah anda sampaikan. Dengan menggunakan pengalaman nyata yang anda alami sendiri, maka siswa akan ikut merasakan bahwa ilmu yang tengah mereka pelajari tidak hanya penting diketahui, melainkan juga untuk dipraktikan.
c.       Mungkin, sesekali anda juga perlu meminta kepada siswa-siswa anda untuk menceritakan pengalaman mereka yang sekiranya berkaitan dengan materi pelajaran yang anda sampaikan. Kemudian, berilah komentar dan tunjukkan nilai-nilai positif dari pengalaman itu bagi mereka.
d.      Ada banyak hal baru dalam kehidupan siswa anda yang barangkali mereka belum mampu memahaminya. Maka, sesekali cobalah untuk bertanya mengenai misalnya apa-apa yang tadi ia lihat sebelum berangkat ke sekolah dan bagaimana tanggapan merea mengenai hal itu. Kebiasaan bertanya ini akan membantu siswa siswa anda untuk  bisa bersikap lebih terbuka terhadap hal-hal baru yang mereka alami sehari-hari.
e.       Mungkin, tidak semua materi pelajaran yang anda ajarkan akan dapat dialami atau dipraktikan secara langsung oleh siswa-siswa anda. Misalnya saja, hal-hal yang berkenaan dengan materi pelajaran yang membutuhkan perlengkapan laboratorium yang memadai. Jika demikian, ajukan pertanyaan tentang bagaimana mereka bisa menyiasati masalah itu.
4. Biasakan Mengulangi Pelajaran Dengan Format Berbeda
Seorang siswa tentu saja tidak akan bisa memahami pelajaran yang diberikan kepadanya hanya dalam satu kali penjelasan saja. Mereka membutuhkan langkah-langkah dan tips-tps yang tepat untuk bisa mengingat, memahami, dan menyerap materi pelajaran yang telah diajarkan. Sebagai seorang guru, anda juga tidak cukup hanya dengan member penjelasan dalam satu kali kesempatan saja. Betepapun padatnya jadwal anda, anda harus tetap berusaha untuk memunculkan motivasii di dalam siswa-siswa anda agar mereka mau belajar lebih giat demi mendapatkan pemahaman yang jelas.
Salah satu cara yang dapat anda lakukan untuk memotivasi mereka adalah dengan cara mengulang member materi pelajaran. Ketika mendengar kata-kata “mengulangi pelajaran” ini, siswa barangkali akan langsung merasa bosan dan tidak lagi bergairah untuk belajar. Untuk itu, lakukan kegiatan penguangan materi dengan metode dan format yang berbeda, namun tetap efektif dan memotivasi. Beberapa langkah di bawah ini barangkali dapat membantu anda dalam melakukannya.
a.       Ajak siswa-siswa anda ke suatu tempat untuk mengulangi materi pelajaran yang telah anda ajarkan. Suasana dan tempat yang baru akan membuat mereka bersemangat dalam belajar.
b.      Jangan sampaikan semua materi yang sudah anda pernah ajarkan, tetapi sampaikan hanya rangkuman dan garis-garis besarnya saja.
c.       Mintalah salah seorang dari mereka untuk menggantikan tugas anda menyampaikan materi pelajaran. Cobalah anda lihat sejauh apa pemahaman mereka bila pelajaran itu disamaikan oleh salah seorang teman mereka. Praktikan sebuah diskusi terbuka mengenai materi yang tengah anda ajarkan dan buatlah semacam kesimpulan dan pengingat untuk lebih mempermudah mereka dalam memahami materi elajaran.
d.      Jangan biarkan ada salah satu siswa yang mendominasi forum “mengulang materi” tersebut. Anda harus menjadi moderator yang baik yang mampu mengatur jalannya diskusi. Berikan waktu bagi siswa untuk saling bertanya dan mencoba menjawab.
e.       Berikan aplaus atau penghargaan sekiranya para siswa berhasil memahami materi pelajaran anda, baik itu secara sempurna atau pun tidak. Penghargaan dan apresiasi akan memberikan motivasi bagi siswa-siswa untuk belajar dengan lebih giat lagi, bukanlah semua orang pasti akan merasa senang kalau dipuji.

F.      MenjadikanTes Sebagai Motivator Dalam Belajar
Walaupun telah dikemukakan bahwa nilai yang diperoleh dalam tes hendaknya tidak dijadikan tujuan utama bagi siswa dalam belajar akan tetapi tes dapat digunakan sebagai sarana peningkatan motivasi untuk belajar.
Hampir semua ahli teori belajar, baik pengikut faham behaviorisme maupun kognitisme, menekanakan pentingnya umpan-balik berupa nilai guna meningkatkan belahjar (Thorndike, et.al., 1991). Pengalaman menunjukan bahwa siswa akan belajar giat dan berusaha lebih giat dan berusaha lebih keras apabila mereka mengetahui nilai dan prestasi mereka. Paling tidak, para siswa akan mengetahui akan adanya tes cenderung untuk belajar dan mempelajari apa yang diperkirakannya akan ditanyakan dalam tes. Dalam hal ini kita dapat mengatakan bahwa factor yang motivasi dan mengarahkan siswa dalam belajar. Apabila tes yang digunakan itu memang mengukur prestasi secara benar maka unsure motivasi dan pengarahan yang dimiliki oleh tes tersebut adalah sangat berharga.
Robert L.Ebel (1979) mengemukakan pula bahwa tes kadang-kadang dianggap sebagai motivator ekstrinsik atau motivator dari luar diri, bukan motivator instrinsik.
Sebagaimana teori psikologi mengatakan, efek motivator ekstrinsik biasanya tidak dapat bertahan lama dan segera hilang apabila tujuan telah tercapai atau apabila tujuan semula terlalu sulit untuk dicapai. Oleh karena itu motivator intrinsic dianggap lebih baik karena efeknya lebih awet dan memiliki daya motivasi yang lebih tinggi. Namun, Ebel mengatakan lebih lanjut, dalam masalah belajar tidaklah penting untuk membedakan mana yang didorong oleh motivasi ekstrinsik karena yang penting adalah tercapainya tujuan belajar itu sendiri. Kalau memang belajar akan dapat terjadi dengan memberikan motivasi ekstrinsik maka justru motivasi inilah yang perlu kita manipulasi dan kita manfaatkan sehingga memberikan efek maksimal terhadap usaha dalam belajar. Apabila kalau disadari bahwa proses memberikan motivasi ekstrinsik jauh lebih mudah daripada membangun motivasi instrinsik dalam diri seorang.
Disamping antisipasi akan adanya tes itu sendiri dapat berlaku sebagai motivasi untuk belajar, teori psikologi beaviorisme memandang bahwa hasil tes yang baik dan yang segera diketahui oleh siswa yang bersangkutan akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mempunyai efek memperkuat dorongan untuk belajar kembali. Dengan kata lain, memperoleh nilai yang baik itu merupakan suatu rewading learning experience, yaitu pengalaman belajar yang menyenangkan.
G.    Implikasi didalam pengajaran bahasa Indonesia
Dalam usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan motivasi belajar Bahasa Indonesia pengetahuan guru mengenai motivasi ini tentu akan berguna, sebagai landasan berfikir atau bahan perbandingan. Penerapannya di dalam kegiatan belajar-mengajar Bahasa Indonesia tentunya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi, dengan memodifikasi teori-teori yang telah ada. Atau, mungkin pula guru harus menemukan dan menciptakan sendiri sesuai dengan keperluan. Memupuk kebiasaan aktif dan kreatif bukan hanya untuk para siswa, gurunya pun harus memberikan contoh.
Penetapan ruang, pengaturan tempat duduk, iklim belajar serta kegiatan pengelolaan kelas ditujukan untuk menumbuhkan dan mengembangkan motivasi belajar setiap siswa yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan demikian, usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan motivasi belajar menjadi lebih ditekankan daripada hanya sekedar member ganjaran, member nilai, memberikan tugas, meningkatkan disiplin, maupun penemuan yang sengaja dan sebagainya.
Dengan penyajian yang sifatnya mengajak atau menantang murid untuk berfikir, berupa penemuan suatu konsep Bahasa Indonesia, pemecahan masalah penyelesaian soal-soal, akan membangkitkan motivasi belajar Bahasa Indonesia. Untuk ini, guru dituntut untuk kreatif untuk mencoba berbagai metode pengajaran Bahasa Indonesia secara tepat, tidak hanya terpaku pada metode ceramah, ekspositori, dan penugasan saja.